Rabu , Maret 4 2026

UMAR BAKRI DI UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU

Pekanbaru-Ditengah denyut aktivitas akademik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau, berdirilah seorang lelaki sederhana yang mungkin tak pernah naik ke mimbar ilmiah, namun justru menjadi tiang penyangga rasa aman bagi seluruh civitas akademika. Ia adalah Pak Umar Bakri, Security yang setia, pengawal sunyi yang lebih sering bekerja dalam diam daripada dalam sorot cahaya. Setiap pagi ia hadir mendahului derap langkah mahasiswa dan dosen, setiap senja ia pulang setelah memastikan halaman kampus tetap teduh dan tertib. Dalam kesehariannya, ia mungkin tampak biasa. Namun pada satu peristiwa yang mengguncang, ia menjelma luar biasa.

Hari itu, ketenangan kampus pecah oleh tindak kriminal yang menyisakan luka dan kepanikan. Suasana yang biasanya dipenuhi diskusi akademik berubah menjadi riuh kecemasan. Wajah-wajah panik mencari pertolongan. Dalam detik-detik genting itulah Pak Umar tidak berdiri sebagai penonton. Ia melangkah maju. Dengan sigap ia dan beberapa kawan-kawanya mampu megendalikan keadaan. Suaranya tegas namun meneduhkan, langkahnya cepat namun terukur. Ia membaca situasi dengan ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa berjaga dalam kesadaran penuh.

Namun heroisme sejatinya tidak berhenti pada pengamanan. Dalam upaya menyelamatkan korban, Seragamnya ternoda darah-darah korban tak ia jadikan alasan untuk surut, ia tetap mengantarkan korban menuju fasilitas kesehatan untuk mendapatkan tindakan medis. Di kendaraan yang melaju di antara degup cemas dan doa-doa lirih, ia menjadi penopang harapan, hatinya yang bergetar tetap teguh menguatkan.

Di ruang tunggu, Pak Umar tidak beranjak, ia tidak pulang lebih dulu, ia tidak mencari perhatian, Ia memilih menunggu. Menunggu hingga Tim Medis Selesai dengan tindakan Medisnya, Menunggu hingga kondisi korban dinyatakan membaik. Menunggu hingga wajah-wajah yang tegang perlahan berubah menjadi lega. Di situlah makna kepahlawanan menemukan wajahnya yang paling jujur.

Tindakan Pak Umar mencerminkan respons krisis yang ideal dalam lingkungan pendidikan tinggi: cepat, terukur, humanis, dan bertanggung jawab. Ia menunjukkan bahwa sistem keamanan bukan hanya persoalan prosedur, melainkan kualitas pribadi yang mengembannya. Rapid response, pengamanan tempat kejadian, pendampingan korban, hingga memastikan keberlanjutan penanganan medis, semua ia lakukan secara refleks, dilandasi empati dan tanggung jawab moral. Ia membuktikan bahwa keamanan kampus bertumpu pada integritas manusia yang berdiri di garis terdepan.

Nama Umar Bakri sendiri mungkin mengingatkan kita pada lagu legendaris Iwan Fals berjudul Umar Bakri, kisah tentang seorang guru sederhana yang mengabdi tanpa pamrih demi mencerdaskan bangsa. Dalam lagu itu, Umar Bakri adalah simbol pengabdian seorang pendidik: bersahaja, tulus, dan setia pada panggilan profesinya. Namun Umar Bakri di Fakultas Syariah dan Hukum adalah kisah yang berbeda, meski denyut pengabdiannya sama kuat. Ia bukan guru yang membawa buku dan kapur, melainkan penjaga yang membawa keberanian dan tanggung jawab. Jika dalam lagu Iwan Fals Umar Bakri menyalakan cahaya ilmu, maka Umar Bakri di kampus ini menyalakan cahaya rasa aman. Keduanya sama-sama berjasa, yang satu menjaga masa depan lewat pendidikan, yang satu menjaga kehidupan lewat Tanggungjawab.

Jasa Pak Umar laksana pelita di lorong yang remang tak selalu disorot, namun tanpanya gelap terasa lebih pekat. Ia bukan sekadar security yang berdiri di pos jaga. Ia adalah benteng kemanusiaan. Ia adalah simbol bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir dari panggung besar atau seragam gemilang, melainkan dari hati yang memilih maju ketika yang lain mundur.

Terima kasih, Pak Umar.
Terima kasih atas keberanian yang tak banyak kata namun nyata dalam tindakan.
Terima kasih menjadi saksi bahwa tugas bagi Anda bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan jiwa.
Terima kasih karena di saat genting, Anda berdiri di garis terdepan, memastikan yang lain tetap berdiri dengan aman dan harapan tetap menyala.

Hari itu, Fakultas Syariah dan Hukum tidak hanya mencatat sebuah insiden kriminal. Ia mencatat keteladanan. Ia menyaksikan bahwa di balik seragam sederhana, ada hati yang luar biasa. Dan nama Pak Umar Bakri akan selalu dikenang bukan hanya sebagai petugas keamanan, tetapi sebagai pahlawan kemanusiaan yang hidup dan nyata di jantung kampus.

Fakultas Syariah dan Hukum:
Berinovasi dengan Aksi penuh CINTA

About Dr. M. Alpi Syahrin, SH., MH Alpi